Senin, 07 September 2015

Hit me on Tinder!

    Yaa..mari membahas tentang aplikasi “kekinian” yang sedang digandrungi para pencari jodoh dari semua kalangan. Tidak hanya di Indonesia, aplikasi ini juga lagi “in-in”nya di negara berkembang lain. Lalu pertanyaannya, mengapa orang-orang sekarang memilih aplikasi ini sebagai ajang pencarian jodoh? Mengapa tidak mencari saja secara langsung, atau mungkin tunggu perjodohan dari orangtua seperti apa yang dulu sering dilakukan. Mari membahasnya lewat tulisan ini.
Menurut Aziz, seorang stand up comedy-an, dia sempat berbicara bahwa sang ayah dengan mudahnya mendapatkan jodoh sedangkan dia untuk memilih menu makan saja susah. Hmm..analogi yang pelik. Dia juga bercerita tentang bagaimana sang ayah berhasil mendapatkan jodoh yaitu sang ibu lewat perjodohan mereka berdua. Ia juga menambahkan, generasi muda kita sekarang lebih merasa”exhausted” dalam mencari pasangan hidup, katanya “yang penting ada” tanpa harus berpikir apakah hubungan tersebut akan berlangsung lama/sampai pelaminan atau tidak,yang penting sekarang ada.

   Tinder sebenarnya bukan satu aplikasi yang menjajikan menurut saya. Namun, tidak ada salahnya memang, mencari jodoh bisa dimana saja, termasuk tanpa harus bertatap langsung, meskipun hanya dengan online dating. Aplikasi ini juga membantu para “jomblo’’ mendapatkan kekasih.  Pendapat saya tentang aplikasi ini adalah, ya sah-sah saja selagi tidak merugikan pihak manapun, tapi harus hati-hati juga, karena bagaimanapun, pasti orang yang kita kenal di tinder pasti mengajak kita bertemu untuk sekedar “coffee break” atau yang sering disebut anak jaman sekarang sebagai “Kongkow” . Jangan sampai kasus facebook yang dahulu ramai terjadi lagi pada aplikasi ini.Sebagai orang yang menggunakan aplikasi tinder ini juga, saya merasa bahwa aplikasi ini adalah aplikasi main-main”

     Lalu, bagaimana sebuah aplikasi dapat merubah komunikasi antar pribadi seperti hubungan romansa? Menurut saya, mudah saja alasannya, saat kita berkenalan dengan orang di tinder, otomatis orang tersebut menanyakan sosial media kita yang lain seperti bbm, line atau apapun itu yang dapat mendekatkan kedua belah pihak, otomatis, komunikasi yang terjadi menjadi semakin intens dan berkelanjutan. Hal tersebut menyebabkan kita semakin dekat kepada orang yang kita kenal lewat tinder. Ya, lagi lagi semua karena komunikasi yang terjalin diantara kedua pihak tersebut, semua akan lebih mudah karena adanya kemajuan teknologi komunikasi.


Sabtu, 22 Agustus 2015

Yang Muda Yang Berkaya!

     Seminar yang diselenggarakan tanggal 19 Agustus 2015 yang mengangkat tema tentang kebudayaan Indonesia yang diangkat kedalam beberapa film pendek yang menjadi ajang Indonesia Short Movie Awards ini diadakan di Aula BKS Universitas Katholik Indonesia Atma Jaya. Seminar ini diselenggarakan oleh BCA yang dinamai BCA Shovia, seminar ini ditujukan untuk mengenalkan bagaimana cara pembuatan film dengan cara mempertunjukan beberapa short movie yang dibuat oleh beberapa anak muda Indonesia. Dalam seminar ini terdapat 3 narasumber utama, yaitu Harris Nizam, Noorca M Massardi dan Tio Pakusadewo, namun yang hadir dalam seminar ini hanya 2. Menurut narasumber yang hadir, benang merah yang dapat saya tangkap mengapa film dijadikan salah satu cara untuk menyalurkan kebudayaan asli Indonesia adalah karena menurut mereka, anak muda di Indonesia sangat menyukai film dan mempunyai kreatifitas dalam pembuatan film meskipun di Indonesia, beberapa judul film justru terkenaal di negara lain, bukan diin negara Indonesia, hal itu dapat terjadi karena ketidakpedulian pemerintah terhadap budaya dan kurangnya perhatian dari masyarakat terhadap film-film yang dibuat anak bangsa, dan besarnya pengaruh budaya luar di Indonesia.
    Sebelum narasumber berbicara tentang topik mereka yang mengangkat tentang film dan kebudayaan Indonesia, seminar ini dimulai dengan sambutan dari salah satu karyawan BCA yang bernama Ibu Atik. Pada kesempatan kali ini, Ibu Atik menyampaikan bahwa seinar ini merupakan ajang perkenalan kebudayaan Indonesia lewat film, dan merupakan salah satu kompetisi short film yang mengutamakan tema tentang kebudayaan Indonesia yang bisa diikuti oleh mahasiswa. Setelah itu, dilanjutkan oleh narasumber yaitu Bpk. Noorca M Massardi yang berbicara mengenai kebudayaan Indonesia secara inti, Ia berbicara tentang bagaimana kebudayaan Indonesia berpengaruh pada pencapaian yang baik dalam ajang kompetisi film di luar negri, menurutnya, karena kebudayaan Indonesia yang unik dan beragam, banyak masyarakat dan para pecinta film mancanegara yang tertarik pada kebudayaan Indonesia dan itu berperan dalam peningkatan pariwisata di Indonesia. Menurutnya, sebagai anak muda yang ingin mencoba membuat film, kita lebih baik mencari tema yang dekat dengan kita, yang kita kuasai dan yang kita tahu secara persis. Jika kita hanya mengetahui tema yang ingin kita buat secara tidak detail, maka film tidak akan jadi, karena kita hanya mengetahui fisik dari apa yang ingin kita samoaikan. Tambahnya, sebagai penulis novel dan juga penulis beberapa buku, jika kita ingin sukses dalam dunia film, kita harus berdedikasi tinggi dan mempunyai tanggung jawab terhadap  kerja tim. Inti dari pembahasan narasumber pertama ini merupakan sangkut paut budaya Indonesia dalam setiap karyanya.

   Narasumber yang kedua bernama Bpk. Harris Nizam, sebgaai sutradara muda, ia menyampaikan banyak hal yang dapat diterima dengan baik oleh pendengar yaitu kami sebagai mahasiswa karena bahasa yang digunakan tidak terlalu berat. Ia menyampaikan betapa pentingnya tema yang harus sejalan dengan apa yang kita pikirkan. Menurutnya, sebuah tema yang bagus akan memperoleh alur cerita yang baik. Tema itu harus berada dekat dengan kita, sama halnya dengan apa yang dikatakan oleh Bpk. Noorca, tema yang baik menurutnya adalah tema yang dekat dengan kita, atau sesuatu yang sedang kita rasakan, itu akan menjadi salah satu daya tarik pembaca/penikmat film. Dalam kesempatan kai ini, Bpk. Harris menyampaikan beberapa trik dan tips dalam pembuatan film yakni :
  1. Cerita : dalam penyampaiannya, Bpk. Harris memberi informasi bahwa cerita yang ada harus kuat, karena durasi yang pendek kitqa harus memilih cerita yang kuat dan menqarik perhatian para penikmat film.
  2. Penokohan : karena ini merupakan film pendek, lebih baik tokoh tidak lebih dari 5 orang, karena akan sulit diingat oleh penonton
  3. Pemeran : harus membuat penonton percaya, tidak dibuat buat, contohnya jika peran yang dimainkan adalah nenek-nenek, jangan menggunakan remaja yang didandani menjadi nenek-nenek, karena itu akan membuat penonton tidak tertarik.
  4. Crew : crew yang lengkap akan mempermudah pekerjaan anggota crew satu sama lain.
  5. Ending : film yang baik adalah film yang mempunyai ending, meskipun dalam ucapannya, Bpk. Harris berkata jika ending tidak terlalu diperlukan.
     Karena salah satu narasumber yaitu Tio Pakusadewo tidak dapat hadir, seminar dilanjutkan dengan sesi tanya jawab oleh mahasiswa kepada narasumber, saya akan membahas beberapa pertanyaan yang disampaikan oleh mahasiswa. Pertanyaan pertama adalah tentang kamera yang digunakan. Salah satu mahasiswa mengungkapkan bahwa ia ingin membuat film namun ia bingung kamera yang digunakan. lalu Bpk. Harris menjawab bahwa kamera sebenarnya bukan hal yang terlalu penting, namun penggunaan kamera yang bagus akan meningkatkan ketertarikan penoton film, sebagai pembuat film amatir, Bpk. Harris menyampaikan  salah satu contoh kamera yang dapat digunakan, jika ingin memakai kamera hp, ia menyarankan penggunaan kamera iphone 6 karena dianggap sudah layak dipakai oleh seorang pembuat film amatir. Lalu pertanyaan kedua adalah tentang tips mempermudah short movie, jawaban dari Bpk Harris yaitu yang paling utama adalah niat, karena dengan niat yang tinggi, semua akan mudah dicapai.

   Dari narasumber yang ada, dapat disimpulkan bahwa film pendek dapat dijadikan alternatif dari film produksi berdana besar, alasan yang logis  dari alasan ini adalah, kita masih dapat berkarya sebagai mahasiswa, film pendek tidak memerlukan banyak crew dan pemain yang biasanya memakai budget yang banyak, dan b eberaa peralatan film pendek juga tidak dibutuhkan alat-alat yang mahal karena kita dapat menggunakan kamera handphone seperti apa yang dikatakan oleh Bpk. Harris, karena durasinya yang singkat, alur cerita yang baik lebih diutamakan dibanding dengan yang lain, berbeda dengan film panjang yang membutuhkan banyak pemain dan crew juga peralatan yang sangat lengkap. Dalam hal ini,film pendek juga menjanjikan fenomena "prosumer". Membahas tentang "prosumer" ini mempunyai makna kita sebagai penikmat film menjadi produsen dan konsumen, maksudnya, kita dapat membuat fiilm dengan cara mudah yaitu dengan mengupload lewat youtube, dan sebagai konsumen maksudnya kita dapat mengkonsumsi film-film lewat youtube.